Jan 05
Di perayaan yang menunggu
Ada jiwa tersaruk, sungguh bagiku…
Taman-taman masa lalu terlempar
Wajah kecilmu memang kekal untuk ku
Dan takdirmu terdampar disisiku sebagai Nanda
Sebagai keindahan hidup yang tak tergantikan
O betapa engkau satu-satunya yang bisa melukai
Karena tujuan hidupku ada padamu
Di nafasmu, barisan Do’a dan pengharapanku
Jika kelak kau mencari cinta yang abadi
Sesungguhnya kau telah memilikinya
January 6th, 2010 at 2:47 pm
yes! pertamax!
yeah…selalu ada alasan untuk bertahan…bukan begitu?
January 7th, 2010 at 1:36 am
Iri juga rasanya membaca puisi Anda yg jujur, lembut mengalir lepas, Nyaman menikmatinya. Penjiwaan saat penciptaan terasa saat membacanya. Saya perlu belajar banyak nih. Karya saya cenderung patah-patah dengan diksi kasar, tidak lepas dan selalu ada yang tersembunyi karena berat mengungkapkannya. Kurang jujur & tidak lepas. Ekspresinya baru banyak terbantu jika saat pembacaan penekanannya tepat. Sedang puisi Anda, dapat saya bayangkan kenyamanan pembacaannya. Selamat Tahun Baru 2010, puisi berikutnya saya tunggu, lho.
January 7th, 2010 at 9:31 am
@Mosesforesto
Terimakasih banyak teman, saya senang sekali kalau kau bisa menikmatinya, hm mungkin kejujuran dalam puisi ini karena ditulis oleh seorang ibu. Seringkali penulisan puisiku sangat dangkal, aku harus belajar terus hehe
January 8th, 2010 at 4:37 am
Waduh,…maafkan Bendol karena gak ngeh tentang puisi.
Apa putrinya ber-Ultah?
hehe…
Kalo salah menerjemahkan puisnya, mohon maaf.
Terima Kasih
Salam
January 8th, 2010 at 4:50 pm
wa..puisi dari seorang ibu ya?kalo gini saya jadi inget kalo saya punya banyak salah sama bunda….
January 9th, 2010 at 1:01 pm
Kunjungan balik Jeng.. puisi yang dalem, dari hati.. bagaimanapun kita harus selalu bertahan bukan?
February 9th, 2010 at 12:19 pm
kangen dengan nasehat2 ibu yang menentramkan jiwa……. kunjungan balik ditunggu bu
March 5th, 2010 at 5:32 pm
haa… dari lima puisi aku paling suka yg ini… jujur dan sederhana …
dan seorang iu pun telah menjejakan tanda di sini..
salam kenal…