Nov 21
Di jalan panjang impianku tertinggal dan remah-remah waktu semakin tua
Tujuanku semedi gunung-gunung
lantas memeluknya hingga sampai kepada nasib
Seperti keinginan-keinginan yang menghuni kehidupan
Dan akupun semakin jauh, bayangku jatuh bermukim di dalam gubuk
Menjadi cahaya lampu teplok yang memajang siluet di bilik bambu
Penuh percakapan dengan angan
Hingga mimpi-mimpi asing mengurai suara di bantal kapuk
Mengekal tidur
November 21st, 2009 at 3:38 am
kasih komeng dulu ah……….
untung g sampai dari pada panjang tangan bos wkkkkkwkkkkkk
November 21st, 2009 at 4:44 am
Bener mbah gendeng tuh …..
jangan2 mbah gendeng yg panjang tangan yach ??? wkwkwkwkwkk
Salam
November 21st, 2009 at 4:59 am
puisina bgus, mampir keblog saya juga ya
November 21st, 2009 at 2:42 pm
rasa putus asa kah karena tak sanggup menggapai apa yang di angankan?
November 22nd, 2009 at 11:26 am
Cukup rumit bagi saya untuk menyirat maknanya. Sekilas, puisi ini terasa menggantung
November 22nd, 2009 at 8:42 pm
bunda kadang2 gitu..kepengen sesuatu tp nggak kesampaiannnnn
November 23rd, 2009 at 12:08 am
memeluk gunung udah pasti tangan tak sampai, seperti halnya keinginan dan hasrat kadangkala tidak sesuai pada tujuannya
November 23rd, 2009 at 12:37 am
Untuk sementara, blog ini ditutup komentar, untuk memudahkan import sampai aku migrasi ke server baru, maklumlah domain ini di hosting di byethost, gratisan sering downtime. Doakan semoga sukses yah pindah ke hostso server
November 28th, 2009 at 12:52 am
impian memeluk gunung itu perlu, tp terkadang justru itu membuat kita jatuh ke jurang