Oct 15
Andai lembar kabut bisa kusingkap seperti kelambu
Akan kumasuki pintu menujumu
Namun wajahmu adalah rahasia yang memanjangkan perjalanan
Seperti kulukis rupa angin pada sorak dedaunan
Sedalam itu kubayangkan wajahmu
Bangkai-bangkai hujan bergelimpangan di dalam mataku
Akulah Perempuan itu
December 18th, 2009 at 2:48 pm
he he he…, tanpa kuas dan cat, anda gesit melukis berkanvaskan benak setiap pembacanya dengan stroke metaphor tegas dan tajam. Saya suka puisi-pusi anda. Maju terus, nulis dan upload lebih banyak lagi biar banyak yang terhibur. Bravo!
January 14th, 2010 at 5:05 pm
Antifoni untuk Wajah:
satu peluru untuk sehuruf asa
terbunuh aku oleh syairmu
setetes embun untuk sebaris kata
tertimbun makna oleh kagumku
tergolek rasa, terpaku karsa
lelah memburu sang wajah
beku menunggu lukisan rupa
harap daunnya tuturkan kisah
January 17th, 2010 at 1:06 am
Meski harus beberapa kali mengklik “previous entry”, puisi ini masih favoritku.